
Tanaman kunyit (Curcuma longa), salah satu anggota famili Zingiberaceae, telah lama dikenal karena manfaatnya yang luas, baik di bidang kuliner, kesehatan, maupun industri. Rimpangnya yang mengandung kurkumin memiliki khasiat antioksidan dan antiinflamasi yang tinggi. Untuk menghasilkan rimpang kunyit yang berkualitas dan produktif, diperlukan kondisi pertumbuhan yang optimal, termasuk pemenuhan kebutuhan unsur hara melalui pengelolaan pupuk yang tepat.
Pemahaman tentang jenis dan peran unsur hara serta strategi pemupukan yang sesuai sangat krusial dalam budidaya kunyit. Artikel ini akan membahas secara komprehensif berbagai unsur hara esensial bagi kunyit, fungsi masing-masing unsur, gejala kekurangan, dan jenis pupuk yang dapat digunakan—baik organik maupun anorganik—untuk mendukung pertumbuhan dan hasil panen optimal.
1. Karakteristik Tanaman Kunyit Dan Kebutuhan Nutriennya
Kunyit adalah tanaman tahunan yang ditanam secara semusim, tumbuh baik pada daerah tropis dengan ketinggian 0–1500 mdpl. Tanaman ini memiliki akar serabut dan menyimpan cadangan nutrisinya dalam rimpang. Oleh karena itu, kebutuhan hara untuk pembentukan biomassa dan rimpang sangat tinggi, terutama pada fase vegetatif dan penggembungan rimpang.
Kebutuhan unsur hara kunyit termasuk:
- Unsur makro primer (N, P, K)
- Unsur makro sekunder (Ca, Mg, S)
- Unsur mikro (Fe, Mn, Zn, Cu, B, Mo, Cl)
2. Unsur Hara Makro Primer Dan Peranannya
a. Nitrogen (N)
- Fungsi: Meningkatkan pertumbuhan daun dan batang, pembentukan klorofil.
- Dampak Kekurangan: Daun menguning, pertumbuhan kerdil, produktivitas rendah.
- Waktu Kritis: Awal pertumbuhan vegetatif.
Sumber Nitrogen:
- Organik: Kompos, pupuk kandang, kotoran ayam.
- Anorganik: Urea, ZA (ammonium sulfat).
b. Fosfor (P)
- Fungsi: Merangsang pembentukan akar dan rimpang, mempercepat pematangan.
- Dampak Kekurangan: Pertumbuhan akar terhambat, daun keunguan.
- Waktu Kritis: Fase awal dan pembentukan rimpang.
Sumber Fosfor:
- Organik: Abu sekam, pupuk kandang fermentasi.
- Anorganik: SP-36, TSP.
c. Kalium (K)
- Fungsi: Meningkatkan kualitas rimpang, daya tahan terhadap penyakit, efisiensi penggunaan air.
- Dampak Kekurangan: Tepi daun mengering, tanaman mudah rebah.
- Waktu Kritis: Fase pengisian rimpang.
Sumber Kalium:
- Organik: Kompos kulit pisang, abu kayu.
- Anorganik: KCl (Kalium klorida), KNO₃.
3. Unsur Hara Makro Sekunder
a. Kalsium (Ca)
- Fungsi: Memperkuat dinding sel, membantu penyerapan nutrisi lain.
- Dampak Kekurangan: Daun muda menggulung, pertumbuhan terhambat.
Sumber:
- Dolomit, kapur pertanian, arang kayu.
b. Magnesium (Mg)
- Fungsi: Komponen utama klorofil, mendukung fotosintesis.
- Dampak Kekurangan: Daun menguning di antara tulang daun (klorosis interveinal).
Sumber:
- Dolomit, kieserite, pupuk organik hijau.
c. Sulfur (S)
- Fungsi: Sintesis asam amino dan enzim, memperkuat aroma khas kunyit.
- Dampak Kekurangan: Daun pucat, pertumbuhan terhambat.
Sumber:
- Pupuk kandang fermentasi, pupuk ZA.
4. Unsur Mikro Dan Perannya
a. Besi (Fe)
- Fungsi: Pembentukan klorofil, metabolisme enzim.
- Kekurangan: Klorosis pada daun muda.
b. Mangan (Mn)
- Fungsi: Aktivasi enzim, respirasi tanaman.
- Kekurangan: Pertumbuhan lambat, bercak coklat pada daun.
c. Seng (Zn)
- Fungsi: Sintesis hormon pertumbuhan (auksin).
- Kekurangan: Daun kecil, pendek, dan rimbun.
d. Tembaga (Cu), Boron (B), Molibdenum (Mo), Klor (Cl)
- Penting dalam jumlah kecil namun esensial untuk metabolisme enzim, struktur sel, dan penyerapan hara lain.
Sumber unsur mikro:
- Abu sekam, kompos jerami, pupuk mikro cair organik (POC), mineral alami seperti rock phosphate atau serbuk batu.
5. Strategi Pemupukan Yang Efektif
a. Pemupukan Dasar
Dilakukan saat pengolahan tanah. Tujuannya memperbaiki kesuburan awal tanah.
Bahan yang digunakan:
- 20–30 ton/ha pupuk kandang matang.
- 300 kg/ha abu sekam atau dolomit (untuk menyeimbangkan pH).
- 100–200 kg/ha rock phosphate.
b. Pemupukan Susulan
Dilakukan 2–3 kali selama masa pertumbuhan:
- Tahap 1: 1 bulan setelah tanam (fase vegetatif)
- Tahap 2: 3 bulan setelah tanam (fase pembentukan rimpang)
- Tahap 3: 5 bulan setelah tanam (fase pengisian rimpang)
Dosis Anjuran Umum (per hektar):
- N: 120 kg
- P2O5: 90 kg
- K2O: 90–120 kg
Dosis ini bisa disesuaikan jika menggunakan pupuk organik seperti bokashi, POC, dan kompos fermentasi.
6. Pupuk Organik Vs Anorganik: Mana Yang Lebih Baik?
Pupuk Organik
Kelebihan:
- Meningkatkan struktur tanah
- Menyediakan unsur hara makro dan mikro
- Meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah
Kekurangan:
- Kandungan hara lebih rendah → membutuhkan dosis besar
- Lambat dalam menyediakan unsur hara
Pupuk Anorganik
Kelebihan:
- Kandungan hara tinggi dan cepat diserap
- Praktis dan mudah didapat
Kekurangan:
- Dapat merusak struktur tanah jika digunakan terus-menerus
- Mengurangi mikroorganisme tanah
Rekomendasi:
Kombinasikan pupuk organik dan anorganik secara seimbang untuk hasil maksimal dan berkelanjutan.
7. Pupuk Hayati Dan Biofertilizer
Pupuk hayati adalah inokulan mikroba yang meningkatkan ketersediaan nutrisi:
- Rhizobium dan Azospirillum: Fiksasi nitrogen
- Trichoderma: Pengurai bahan organik + pengendalian penyakit
- Mikoriza: Meningkatkan serapan fosfor
Cara Aplikasi:
- Campurkan pupuk hayati dengan kompos atau pupuk kandang.
- Aplikasikan ke lubang tanam atau larutan disemprotkan ke akar.
8. Cara Menyesuaikan Pupuk Dengan Kondisi Tanah
Analisis Tanah
Langkah awal untuk menentukan kebutuhan pupuk yang akurat. Data yang dibutuhkan:
- pH
- Kandungan N, P, K
- Kapasitas tukar kation (KTK)
- Kandungan bahan organik
Praktik Pertanian Presisi (Precision Farming)
- Penggunaan pupuk berdasarkan kebutuhan aktual tanaman
- Menghindari pemborosan dan pencemaran
- Memastikan efisiensi pemupukan
9. Gejala Kekurangan Unsur Hara Pada Kunyit
| Unsur Hara | Gejala Kekurangan |
|---|---|
| N | Daun pucat, tanaman kerdil |
| P | Daun tua keunguan, pertumbuhan akar buruk |
| K | Tepi daun kering, rimpang kecil |
| Ca | Daun muda menggulung |
| Mg | Klorosis interveinal |
| S | Warna pucat keseluruhan |
| Fe | Daun muda menguning |
| Zn | Daun kerdil, pertumbuhan lambat |
10. Tips Pemupukan Praktis Untuk Petani Kunyit
- Gunakan kompos matang dan hindari bahan setengah fermentasi.
- Kombinasikan bokashi + dolomit + abu sekam untuk memperbaiki struktur dan pH tanah.
- Gunakan pupuk cair organik (POC) berbasis mol (mikroorganisme lokal).
- Lakukan rotasi tanaman untuk menjaga keseimbangan nutrisi tanah.
- Gunakan mulsa jerami untuk menjaga kelembaban dan mengurangi erosi hara.
Kesimpulan
Pertumbuhan dan produktivitas kunyit yang optimal sangat bergantung pada pemenuhan kebutuhan unsur hara yang tepat dan seimbang. Penggunaan pupuk, baik organik maupun anorganik, harus disesuaikan dengan kondisi tanah, fase pertumbuhan tanaman, dan tujuan produksi.
Dengan memahami peran masing-masing unsur hara, sumber pupuk, serta strategi pemupukan yang tepat, petani dapat mengelola budidaya kunyit secara efisien dan berkelanjutan. Pendekatan yang mengedepankan analisis tanah, pemanfaatan kompos dan pupuk hayati, serta pemupukan terarah akan menjadi kunci untuk menghasilkan rimpang kunyit yang sehat, berkualitas, dan bernilai tinggi di pasar.
