
Keikutsertaan Indonesia dalam ajang pameran internasional bukanlah hal baru. Namun, partisipasi Indonesia dalam pameran herbal berskala Eropa menandai langkah penting dalam upaya memperluas pasar ekspor produk herbal ke dunia. Di tengah tren global yang semakin mengarah pada gaya hidup sehat dan penggunaan bahan alami, produk herbal Indonesia memiliki peluang besar untuk bersaing dan berkembang di pasar internasional, terutama di kawasan Eropa yang sangat memperhatikan mutu, keberlanjutan, dan keunikan.
Dalam pameran bertajuk European Herbal Expo 2025 yang diselenggarakan di Berlin, Jerman, Indonesia hadir sebagai salah satu negara peserta dengan membawa berbagai produk unggulan dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), perusahaan skala industri, serta lembaga riset herbal. Keikutsertaan ini difasilitasi oleh Kementerian Perdagangan, Badan Ekonomi Kreatif, dan Kementerian Kesehatan, serta didukung oleh berbagai asosiasi industri herbal nasional.
Tujuan Strategis Keikutsertaan Indonesia
Keterlibatan Indonesia dalam pameran herbal tingkat dunia memiliki beberapa tujuan strategis, antara lain:
- Memperluas pasar ekspor produk herbal nasional ke pasar Eropa yang memiliki potensi besar dan pertumbuhan stabil.
- Meningkatkan eksistensi dan brand awareness produk herbal Indonesia sebagai produk berkualitas tinggi dan alami.
- Menarik minat investor dan distributor internasional untuk menjalin kerja sama bisnis jangka panjang.
- Mendapatkan wawasan dan pembelajaran dari pelaku industri herbal Eropa terkait standar mutu, regulasi, dan inovasi terbaru.
Dengan membawa berbagai produk herbal unggulan, mulai dari jamu siap konsumsi, kosmetik herbal, hingga suplemen kesehatan berbasis tanaman, Indonesia membuktikan bahwa warisan tradisional dapat dikemas secara modern dan kompetitif.
Produk Herbal Unggulan yang Ditampilkan
Dalam pameran tersebut, Indonesia menampilkan beragam produk herbal dari berbagai daerah, masing-masing dengan keunikan dan manfaat tersendiri. Di antaranya:
- Jamu instan dan modern, seperti kunyit asam, beras kencur, dan temulawak dalam bentuk serbuk siap seduh atau kapsul.
- Minyak atsiri dan aromaterapi, termasuk minyak kayu putih, minyak cengkeh, dan minyak sereh.
- Kosmetik alami, seperti sabun berbahan lidah buaya, krim wajah dari pegagan, dan masker herbal dari bengkoang.
- Suplemen fitofarmaka, misalnya sambiloto dan meniran untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
- Teh herbal, seperti teh rosella, daun jati Cina, daun sirsak, dan teh jahe merah.
Produk-produk tersebut dipresentasikan secara profesional dengan desain kemasan yang menarik, informasi komposisi yang transparan, serta sertifikasi mutu yang sesuai standar internasional, termasuk Good Manufacturing Practice (GMP), HACCP, dan izin edar dari BPOM.
Respon Positif dari Investor dan Distributor Eropa
Salah satu indikator kesuksesan keikutsertaan Indonesia dalam pameran ini adalah respon positif dari para pengunjung, khususnya investor dan distributor Eropa. Banyak pengusaha retail, pemilik jaringan toko organik, hingga perwakilan dari industri farmasi dan kosmetik yang tertarik menjajaki kerja sama dengan produsen herbal asal Indonesia.
Beberapa hal yang menarik perhatian para investor Eropa adalah:
- Keanekaragaman jenis tanaman herbal yang unik dan belum banyak dikenal di Eropa, seperti temulawak, daun kelor, dan pegagan.
- Komitmen produsen Indonesia terhadap kualitas dan keberlanjutan, terutama mereka yang menggunakan bahan organik, kemasan ramah lingkungan, dan praktik perdagangan adil.
- Nilai tradisi dan cerita di balik setiap produk, yang dianggap memiliki nilai tambah budaya dan bisa memperkaya narasi merek di pasar global.
Bahkan, sejumlah perusahaan Eropa menyatakan minat untuk menjalin kemitraan produksi, lisensi, hingga investasi dalam pengembangan produk herbal bersama mitra Indonesia.
Peran Pemerintah dan Dukungan Institusi
Keberhasilan ini tidak lepas dari peran aktif pemerintah Indonesia dalam memfasilitasi keikutsertaan pelaku industri herbal nasional. Beberapa langkah nyata yang diambil antara lain:
- Seleksi ketat terhadap produk yang layak ditampilkan, dengan mengedepankan kualitas, legalitas, dan daya saing.
- Penyediaan pelatihan dan bimbingan teknis kepada peserta pameran, termasuk simulasi pertemuan bisnis (business matching), pemahaman regulasi ekspor, dan standarisasi internasional.
- Pendanaan partisipasi dan booth pameran, terutama bagi UMKM dan koperasi yang memiliki produk potensial namun keterbatasan modal promosi.
- Kolaborasi dengan perwakilan dagang dan Kedutaan Besar RI di negara tujuan, untuk membuka akses pasar dan memperluas jejaring kerja sama bisnis.
Dukungan juga datang dari lembaga riset dan universitas yang membantu validasi ilmiah terhadap manfaat produk herbal, serta lembaga pembiayaan ekspor yang menawarkan skema kredit ekspor bagi pelaku industri.
Dampak Terhadap Industri Herbal Nasional
Partisipasi Indonesia dalam pameran herbal internasional tidak hanya membuka peluang pasar, tetapi juga memicu pertumbuhan dan inovasi industri dalam negeri. Beberapa dampak positif yang langsung terasa antara lain:
1. Meningkatnya Permintaan Produk Herbal Standar Ekspor
Banyak produsen kini berbenah untuk memenuhi permintaan ekspor, termasuk dalam hal kebersihan produksi, dokumentasi bahan baku, dan sertifikasi organik.
2. Dorongan Inovasi Produk
Untuk bersaing secara global, pelaku usaha dituntut menciptakan produk baru yang unik dan relevan dengan pasar Eropa, seperti kombinasi herbal tropis dengan bahan lokal Eropa, atau inovasi bentuk sediaan (gel, spray, kapsul cair, dsb).
3. Penguatan Branding Produk Lokal
Banyak produsen mulai menyadari pentingnya merek (brand) sebagai aset dalam menembus pasar global, dan mulai berinvestasi dalam pengemasan, desain label, serta komunikasi narasi produk.
4. Transfer Pengetahuan dan Teknologi
Pertemuan dengan mitra Eropa membuka peluang transfer teknologi, seperti mesin ekstraksi modern, teknik formulasi baru, serta model distribusi berbasis e-commerce.
Tantangan yang Masih Harus Dihadapi
Di balik kesuksesan ini, masih terdapat beberapa tantangan yang perlu diatasi untuk memperkuat daya saing jangka panjang, antara lain:
- Standardisasi Produk dan Regulasi yang Ketat di Eropa
Pasar Eropa memiliki regulasi ketat terkait klaim kesehatan, bahan baku, dan label produk. Oleh karena itu, pelaku usaha harus mampu memenuhi standar seperti European Medicines Agency (EMA) atau Novel Food Regulation. - Ketersediaan Bahan Baku Berkualitas
Untuk memenuhi permintaan pasar besar, dibutuhkan pasokan bahan baku herbal yang stabil, konsisten, dan berkualitas tinggi. Ini menuntut pembinaan petani herbal dan koperasi di hulu. - Logistik dan Rantai Pasok Ekspor
Distribusi ke Eropa masih menghadapi tantangan biaya tinggi dan sistem logistik yang belum optimal, terutama bagi produk dengan masa simpan terbatas. - Perlindungan Kekayaan Intelektual
Produk berbasis budaya lokal harus dilindungi dari klaim oleh pihak asing melalui sistem indikasi geografis dan hak kekayaan intelektual (HKI).
Upaya Ke Depan: Strategi Peningkatan Ekspor Herbal
Untuk mempertahankan momentum positif ini, Indonesia perlu menerapkan strategi jangka menengah dan panjang, antara lain:
- Penguatan Ekosistem Industri Herbal Terintegrasi, dari hulu (budidaya tanaman obat) hingga hilir (produk jadi dan ekspor).
- Peningkatan riset dan uji klinis untuk menghasilkan produk berbasis bukti ilmiah yang dapat diakui secara global.
- Digitalisasi pemasaran dan ekspor, termasuk penguatan kehadiran di marketplace internasional dan platform B2B.
- Pembentukan Konsorsium Herbal Ekspor Nasional, sebagai wadah kolaborasi lintas pelaku usaha dan lembaga pemerintah.
- Promosi berkelanjutan di ajang internasional lainnya, agar citra herbal Indonesia semakin kuat sebagai produk alami berkualitas tinggi.
Kesimpulan: Momentum Emas Herbal Indonesia di Dunia Internasional
Keikutsertaan Indonesia dalam pameran herbal Eropa membuktikan bahwa produk herbal lokal tidak kalah dalam hal kualitas, keunikan, dan nilai tambah. Respon positif dari investor dan mitra bisnis asing menjadi sinyal kuat bahwa dunia mulai melirik kekayaan hayati dan tradisi pengobatan alami dari Nusantara.
Dengan strategi yang tepat, dukungan pemerintah, inovasi berkelanjutan, serta kolaborasi antar-pelaku industri, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemain utama dalam pasar herbal global—bukan hanya sebagai pengekspor bahan mentah, tetapi sebagai penyedia produk jadi berkelas dunia yang berbasis pada kearifan lokal dan sains modern.
