
Dalam kehidupan modern yang penuh tekanan, tubuh manusia menghadapi berbagai bentuk stres: fisik, emosional, dan lingkungan. Dalam menghadapi tantangan ini, pendekatan alami seperti penggunaan adaptogen semakin mendapat perhatian. Istilah adaptogen mengacu pada kelompok tanaman herbal yang memiliki kemampuan membantu tubuh beradaptasi terhadap stres serta menyeimbangkan sistem tubuh tanpa menyebabkan gangguan atau efek samping berlebihan.
Di berbagai belahan dunia, adaptogen telah digunakan selama ribuan tahun dalam praktik pengobatan tradisional seperti Ayurveda di India, TCM (Traditional Chinese Medicine), dan jamu di Indonesia. Kini, minat terhadap adaptogen meningkat pesat, terutama karena gaya hidup yang menuntut ketahanan tubuh dan pikiran yang tinggi.
Artikel ini akan mengupas secara mendalam mengenai apa itu adaptogen, mekanisme kerjanya, dan contoh tanaman herbal adaptogenik yang terbukti secara ilmiah maupun empiris dapat membantu mengurangi stres dan kelelahan.
Apa Itu Adaptogen?
Adaptogen adalah zat alami, terutama dari tanaman herbal, yang membantu tubuh menyesuaikan diri terhadap stres, mempertahankan homeostasis (keseimbangan internal), dan meningkatkan resistensi terhadap berbagai bentuk tekanan, baik itu fisik, emosional, maupun biologis.
Istilah “adaptogen” pertama kali diperkenalkan pada tahun 1947 oleh ilmuwan Rusia, Dr. Nikolai Lazarev, dan kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Dr. Israel Brekhman. Mereka mengkaji berbagai tanaman yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh dan memperbaiki fungsi sistem saraf pusat tanpa menyebabkan overstimulasi atau ketergantungan.
Untuk dikategorikan sebagai adaptogen, suatu senyawa atau tanaman harus memenuhi tiga kriteria:
- Tidak beracun dalam dosis normal
- Menstabilkan dan menormalkan fungsi tubuh yang terganggu oleh stres
- Meningkatkan kemampuan tubuh beradaptasi terhadap stresor
Cara Kerja Adaptogen Dalam Tubuh
Adaptogen bekerja pada sumbu HPA (Hipotalamus–Pituitari–Adrenal), sistem utama yang mengatur respon tubuh terhadap stres. Saat seseorang menghadapi stres, tubuh memproduksi hormon kortisol sebagai bagian dari mekanisme “fight or flight”. Adaptogen membantu mengatur produksi kortisol dan menjaga keseimbangan hormon, sehingga tubuh tidak mengalami kelelahan akibat stres yang berkepanjangan.
Adaptogen juga memengaruhi neurotransmiter seperti dopamin, serotonin, dan norepinefrin, yang terkait dengan suasana hati, kewaspadaan, dan energi.
Manfaat adaptogen meliputi:
- Menurunkan kadar kortisol
- Mengurangi kelelahan fisik dan mental
- Menyeimbangkan mood dan emosi
- Meningkatkan konsentrasi dan daya tahan tubuh
- Menjaga kualitas tidur
Contoh Tanaman Herbal Adaptogen Dan Khasiatnya
Berikut adalah sejumlah tanaman herbal adaptogen yang sudah dikenal dan digunakan secara luas, baik dalam pengobatan tradisional maupun penelitian ilmiah modern:
1. Ashwagandha (Withania somnifera)
Asal: India
Penggunaan: Ayurveda
Manfaat:
- Menurunkan kadar kortisol
- Meningkatkan daya tahan terhadap stres kronis
- Meningkatkan energi dan kualitas tidur
- Membantu kecemasan dan depresi ringan
Bukti ilmiah:
Studi menunjukkan bahwa ashwagandha dapat menurunkan kadar kortisol hingga 30% pada orang dengan stres tinggi.
2. Ginseng (Panax ginseng dan Panax quinquefolius)
Asal: Korea, Cina, Amerika Utara
Manfaat:
- Menambah stamina dan energi
- Mengurangi kelelahan kronis
- Menstimulasi daya pikir dan fokus
- Memperkuat sistem imun
Keterangan:
Ginseng Korea (Panax ginseng) bersifat lebih stimulan, sedangkan ginseng Amerika (Panax quinquefolius) cenderung menenangkan.
3. Rhodiola rosea
Asal: Rusia, Eropa Timur, Skandinavia
Manfaat:
- Meningkatkan konsentrasi dan produktivitas
- Mengurangi stres akibat tekanan pekerjaan
- Menjaga kesehatan mental dan fisik dalam lingkungan ekstrem
Bukti ilmiah:
Studi pada pekerja shift menunjukkan peningkatan fungsi kognitif dan penurunan rasa lelah setelah konsumsi Rhodiola selama 2 minggu.
4. Tulsi (Ocimum sanctum) – juga dikenal sebagai Holy Basil
Asal: India
Manfaat:
- Menenangkan sistem saraf
- Menstabilkan kadar gula darah (yang bisa naik saat stres)
- Memperbaiki suasana hati
- Meningkatkan imun
Aplikasi:
Sering dikonsumsi sebagai teh herbal, minyak atsiri, atau kapsul.
5. Licorice Root (Glycyrrhiza glabra)
Asal: Asia dan Eropa Selatan
Manfaat:
- Menyeimbangkan hormon adrenal
- Mengurangi kelelahan
- Mengatur tekanan darah rendah karena stres
Catatan:
Penggunaan jangka panjang harus dikontrol karena potensi menaikkan tekanan darah.
6. Schisandra chinensis
Asal: Tiongkok dan Rusia Timur
Manfaat:
- Meningkatkan energi fisik dan mental
- Meningkatkan konsentrasi
- Melindungi hati dari kerusakan akibat stres oksidatif
Penggunaan:
Biji dan buah Schisandra sering digunakan dalam teh atau ekstrak herbal.
7. Maca (Lepidium meyenii)
Asal: Pegunungan Andes, Peru
Manfaat:
- Menambah stamina
- Menyeimbangkan hormon (terutama bagi perempuan)
- Mengurangi kelelahan dan kecemasan ringan
Penggunaan:
Biasanya dikonsumsi dalam bentuk bubuk untuk dicampur dalam smoothie atau makanan.
8. Gotu Kola (Centella asiatica)
Asal: Asia Selatan dan Tenggara
Manfaat:
- Menenangkan sistem saraf
- Meningkatkan daya ingat
- Menyembuhkan kelelahan mental
Keterangan:
Selain adaptogenik, gotu kola juga membantu regenerasi sel dan meningkatkan sirkulasi otak.
9. Reishi (Ganoderma lucidum) – Jamur Obat
Asal: Asia Timur
Manfaat:
- Menurunkan stres dan kecemasan
- Meningkatkan kualitas tidur
- Memperkuat sistem imun
Penggunaan:
Sebagai kapsul, teh, atau bubuk dalam minuman.
Adaptogen Lokal Indonesia
Indonesia sebagai negara tropis kaya akan tanaman herbal lokal yang memiliki potensi adaptogenik, meskipun masih sedikit diteliti secara klinis. Beberapa di antaranya adalah:
a. Temulawak (Curcuma xanthorrhiza)
- Mengandung kurkumin yang memiliki efek antiinflamasi dan antistres
- Meningkatkan nafsu makan dan stamina
b. Pegagan (Centella asiatica)
- Meningkatkan fungsi kognitif
- Menenangkan pikiran
c. Daun Moringa (Moringa oleifera)
- Kaya antioksidan dan nutrisi
- Meningkatkan energi dan ketahanan tubuh
Bentuk Konsumsi Adaptogen
- Teh herbal: Tulsi, ginseng, gotu kola
- Kapsul atau tablet ekstrak: Ashwagandha, Rhodiola, Schisandra
- Bubuk untuk campuran makanan: Maca, temulawak
- Minyak atsiri: Digunakan untuk aromaterapi (Reishi, Tulsi, Lavender)
- Jamu atau ramuan tradisional: Pegagan, temulawak, kunyit
Siapa Yang Cocok Menggunakan Adaptogen?
Adaptogen cocok untuk siapa saja yang mengalami:
- Stres berkepanjangan
- Kelelahan kerja
- Ketidakseimbangan hormon ringan
- Kurang fokus atau sulit tidur
- Penurunan imun karena tekanan hidup
Namun adaptogen tidak menggantikan pengobatan medis utama, terutama untuk gangguan kesehatan berat. Konsultasikan dengan tenaga medis jika Anda sedang menggunakan obat tertentu karena beberapa adaptogen dapat berinteraksi dengan obat-obatan.
Tips Menggunakan Adaptogen Dengan Aman
- Mulai dengan dosis rendah, lalu tingkatkan sesuai respons tubuh
- Gunakan secara konsisten selama 2–3 minggu, lalu beri jeda
- Hindari penggunaan berlebihan atau kombinasi tanpa panduan ahli
- Pilih produk herbal bersertifikasi dan terstandar
Kesimpulan
Adaptogen adalah solusi alami yang membantu tubuh beradaptasi terhadap stres, meningkatkan ketahanan fisik dan mental, serta menjaga keseimbangan hormon secara alami. Dengan memilih tanaman herbal adaptogenik seperti ashwagandha, ginseng, rhodiola, dan herbal lokal seperti pegagan serta temulawak, Anda dapat mengatasi stres harian dengan lebih sehat dan berkelanjutan.
Sebagai bagian dari gaya hidup holistik, adaptogen bukan hanya sekadar suplemen, tapi simbol dari kembali ke alam dalam menjaga kesehatan tubuh dan pikiran di tengah tekanan kehidupan modern.
